BAB 4 (Strategi dan Teknik Periklanan)
Advertising pada hakikatnya adalah salah satu jenis
komunikasi yang bertujuan untuk memperngaruhi orang lain. Mempengaruhi dalam
arti brtujuan mengubah sikap,sifat,pendapat,dan prilaku seseorang sesuai dengan
kehendak komunikator (pembicaranya). Dalam kegiatan komunikasi dikenal ada
empat teknik komunikasi, yakni informatif,instruktif,persuasif,dan human
relations.
Informatif digunakan untuk memenangkan pengaruh di kalangan
khalayak, namun walau sudah menerima info, belum tentu hatinya atau pikirannya
terdorong untuk membeli. Maka itu digunakan lah teknik instruktif dimana
menggerakkan khalayak untuk membeli namun khalayak membelinya secara terpaksa
karena biasa teknik instruktif dilengkapi dengan paksaan. Sedangkan teknik
persuasive adalah kegiatan psikologis dalam usaha mempengaruhi
sikap,sifat,pendapat, dan prilaku seseorang. Dapat dilakukan dengan banyak
cara, tapi tidak menggunakan cara seperti terror,boikot,pemerasan,dan
sebagainya melainkan dengan menggunakan cara komunikasi yang verdasar pada
argumentasi dan alasan alasan psikologis.
Pada hakikatnya semua orang selalu bergerumul dalam memenuhi
kebutuhan pokoknya. Hal tersebut merupakan dasar bagi seseorang untuk
berpikir,berbuat,dan bertingkah laku di samping faktor keinginan(want and
desire) serta dorongan jiwa(drive). Ketiga faktor tersebut merupakan jembatan
bagi hidupnya manusia dalam berprilaku. Ketiga faktor tersebut dikendalikan
manusia melalui motivasinya.
Tetapi teknik persuasi akan menghadapi hambatan hambatan
antara lain :
1.
Noice factor, hambatan berupa
suara yang mengganggu sehingga proses komunikasi tidak bisa berjalan
sebagaimana semestinya.
2.
Semantic factor, hambatan berupa
pemakaian kata dan istilah yang dapat menimbulkan salah paham atau salah
pengertian.
3.
Interest, akan membuat seseorang
selektif dalam menanggapi suatu pesan. Orang hanya akan memperhatikan
rangsangan (stimuli) yang ada hubungannya dengan kepentingannya sendiri.
4.
Motif, akan mendorong seseorang
untuk berbuat sesuatu yang benar sesuai dengan keinginan, kebutuhan, dan
kekurangannya.
5.
Prejudice, sering disebut
prasangka yang merupakan hambatan yang paling berat dalam upaya persuasi. Sebab
belum apa apa sudah was was dan menentang komunikator yang akan melancarkan
komunikasi atau persuasi.
Proses periklanan pun akan mengalami kegagalan. J.R. Kantor,
melalui artikelnya “Principles of Psychology” yang dimuat dalam Social Science in Public Relations menyatakan
bahwa usaha usaha membutuhkan perhatian yang dapat dilakukan dengan dua cara:
Pertama, memanfaatkan pengaruh stimulus(perangsang) dengan menggunakan :
1.
Obyek yang berubah-ubah dan bergerak, dalam menghayati perangsang dalam lingkungannya, orang
biasanya bertindak selektif. Ia hanya memperhatikan perangsang-perangsang yang
diminatinya serta yang mampu menggugah minatnya.
2.
Intensitas obyek, obyek perangsang
yang memiliki intensitas dalam warna, suara, dan wangi-wangian akan lebih
menarik. Warna yang kontras seperti warna kuning dengan kombinasi biru atau
hitam banyak dipakai dalam papan reklame, sebab kombinasi warna demikian lebih
memikat ketimbang kombinasi-kombinasi lainnya.
3.
Pengulangan, penyajian secara
berulang-ulang atau diulangi berkali-kali mempunyai kekuatan serta
kelemahan-kelemahannya. Penyajian berulang-ulang ini dapat mewujudkan proses
conditioning pada komunikan, yaitu merasa “biasa” terhadap sesuatu untuk
kemudian diharapkan ada rasa “ketagihan” dari pihak pihak terkait.
4.
Bentuk dan ukuran obyek ,penyajian
sesuatu dalam bentuk yang besar selalu menarik perhatian. Poster yang lebar,
gapura yang besar dan tinggi, billboard yang besar akan lebih menarik ketimbang
yang ukuran kecil.
5.
Hal yang baru dan aneh.
6.
Hubungan sekoyong-koyong dengan obyek, iklan sebuah perusahaan asuransi sering menggambarkan
seorang ayah yang dengan histeris berusaha menyelamatkan anaknya yang berada
dalam keadaan hamper tertabrak sebuah kendaraan yang sedang lari kencang. Iklan
ini dimaksud mencoba menumbuhkan rasa ngeri di kalangan para orangtua sehingga
dapat mendorong untuk mengambil polis asuransi kecelakaan.
7.
Obyek yang menarik,penting,semua
orang rasanya senang akan keindahan,kecantikan,dan segala yang mengandung
unsure-unsur kemerduan. Itulah sebabnya mengapa kulit muka majalah, rekame,
barang/ jasa sering menggunakan unsur-unsur kecantikan,keindahan,dan kemerduan.
Kedua, memanfaatkan kondisi khalayak sasaran yang umumnya
berupa:
1.
Familiar dengan obyek, khalayak
cenderung menyukai obyek-obyek yang sudah lama dikenal atau bias dilihat. Kadang
orang lbih suka (ingat) menyebut nama nama yang lama.
2.
Kepentingan, kepentingan
khalayak sudah tentu menjadi perhatian mereka sendiri. Karenanya dengan
mengenal baik kepentingan mereka akan memperoleh bahan berharga untuk penyajian
iklan yang bisa menumbuhkan perhatian.
3.
Ada hubungan langsung, khalayak
cenderung menaruh perhatian kepada obyek-obyek yang berhungan langsung dengan
kebutuhannya.
4.
Kondisi rohaniah dan jasmaniah khalayak, kelelahan, kemurungan, penderitaan, sifat, tabiat,
kegairahan, dan sebagainya yang tengah dialami khalayak adalah faktor faktor
yang mempengaruhi reaksi terhadap isi iklan.
5.
Feeling, perasaan atau emosi
adalah hal yang tidak boleh dilupakan dalam hal usaha menumbuhkan perhatian.
6.
Kegiatan kelompok, kegiatan komunikasi
di wilayah yang penduduknya taat beragama islam pada saat menjelang Maghrib
tidak akan mendapat perhatian sama sekali, sebab tidak cocok dengan kebiasaan
sosial khalayaknya.
No comments:
Post a Comment