Wednesday, November 20, 2013

BAB 8 (Isi Iklan)


BAB 8 (Isi Iklan)

Dua masalah utama yang bisa kita dipahami dari pemikiran tersebut. Pertama, meneliti informasi yang obyektif adalah perbuatan sia sia. Kebanyakan manusia berbeda pengertian satu dengan yang lainnya, mungkin sekali penafsiran terhadap sebuah stimulus akan berbeda jumlah dan jenisnya. Kedua, ada batas jumlah penafsiran yang mungkin diperoleh dari setiap stimulus. Batas tertingggi jumlahnya dalah sifat fisik, seperti halnya merasakan minuman yang mengandung racun sebagai obat mujarab untuk memperpanjang usia bisa berakibat memperoleh nasib sial.
Dalam praktiknya, kita dapat mengatakan bahwa di dalam kasus yang sangat besar, setiap satu iklan akan memiliki pengertian yang berbeda dari masing masing orang. Pendapat Achenbaum menegaskan bahwa nilai informasi biasanya didefinisikan sebagai salah satu dari empat sifat berikut: obyektif,persuasive,bohong, dan palsu. Rupanya keempat sifat tersebut bisa digunakan untuk mendefinisikan informasi secara operasional, misalnya dalam hal yang bisa diukur, mereka akan gagal membohongi atau memalsukan.
Beberapa literature menganggap bahwa keempat atribut tadi merupakan gambaran gradasi dari informasi yang bisa dan tidak diterima. Namun ada pertentangan pendapat yang serius di mana orang akan membuat garis pemisah antara informasi yang bisa diterima dengan yang tidak bisa diterima.

INFORMASI PALSU
Konsep minat atau perhatian public adalah seuatu yang hanya bisa ditafsirkan kalau kita memiliki beberapa sebutan persamaan yang bisa diambil dan banyaknya heterogenitas konsumen. Semua aturan terkadang membingungkan, tetapi kita dapat menggunakan dua pendekatan utama yang terkenal.
Pertama, pendekatan dengan anggapan bahwa isi iklan terbatas pada informasi yang obyektif. Boyektif disini mengandung arti: isi informasinya menjelaskan tentang bentuk fisik, unsure kimia, sifat mekanik, dan atribut teknis lainnya dari produk yang diiklankan.
Kedua, pendekatan yang menganggap bahwa semua kebutuhan manusia dapat dijelaskan secara alami, dan itulah obyektif serta mendasar. Dua golongan kebutuhan alamiah yang berbeda selalu berarti: keperluan yang rasional atau irasional, dan keperluan yang fungsional atau emosional.
Meskipun tidak ada fakta yang absolute, ada kelompok informas yang bisa diubah ke dalam fakta yang relative bagi beberapa ukuran serta sifatnya diketahui dan diterima umum. Semuanya menyediakan sebutan persamaan yang melebihi heterogenitas persepsi manusia. Konsep standar demikian mungkin bisa membangun definisi informasi palsu secara operasional.

OBYEKTIVITAS FISIK,KIMIA,DAN ATRIBUT LAIN
Dengan dorongan karakteristik, seseorang bisa menemukan solusi penyelesaian persoalannya secara ilmiah, argumennya dibuat bahwa keistimewaan teknnik memiliki satu dan hanya satu pengertian, bahwa pengertian tersebut memperjelas setiap orang dan sama bagi siapapun.
Menurut teori ekonomi sering dipertegas bahwa herga adalah obyektf. Ini bertentangan dengan teori permintaan dalam ekonomi tradisional dan juga dengan perluasan yang iusulkan oleh Lancaster. Menurut teori ekonomi, harga adalah ukuran nilai, jadi mencerminkan prefensi subyektif dari setiap konsumen.
Tujuan pengelola melibatkan daftar keistimewaan teknis penting sekali untuk menentukan besarnya jumlah konsumen. Namun demikian mereka akan menemukan kenyataan berikut:
1.      Kebanyakan konsumen tidak memikirkan dan terlibat dalam keistimewaan teknis
2.      Kebanyakan konsumen tidak mengetahui dan juga tidak mengerti dasar-dasar keistimewaan teknis
3.      Kebanyakan konsumen tidak banyak menggunakan informasi teknis meskipun dipasaran tersedia dalam bahasa yang sederhana.
Memperhatikan konstruksi pesan yang dimuat dalam iklan, terutama penggunaan kata, baik tersurat maupun tersirat, maka akhirnya kita akan sampai pada kesimpulan bahwa telah banyak fakta ilmiah yang membuktikan ;
1.      Setiap interaksi antar manusia memiliki efek tertentu pada masing masing mereka
2.      Kata kata merupakan suatu pengertian dimana manusia berinteraksi
3.      Kata kata berpengaruh

Tampaknya efektifitas isi pesan iklan tidak terletak pada obyektifitas, persuasive, dan manipulative informasinya, melainkan pada kejujuran penyajian informasinya. Jujur dalam arti semua komponen yang terlibat dalam konstruksi produk yang diiklankan itu diberitahukan apa adanya, baik secara fisik maupun manfaatnya. Hanya saja dalam upaya menumbuhkan minat para konsumen akan produk yang ditawarkan, ada baiknya para pengiklan memperhatikan teknik-teknik komunikasi ataupun persuasi yang wajar dengan tidak mengabaikan adanya hirarki efek pada diri masing-masing konsumen.
 Serta pengiklan juga harus menggunakan kata-kata ataupun kalimat yang secara psikologis dapat berpengaruh kea rah perubahan sikap,sifat,pendapat dan prilaku yang sesuai dengan keinginan dan harapannya. 

No comments:

Post a Comment

window.setTimeout(function() { document.body.className = document.body.className.replace('loading', ''); }, 10);