BAB 8 (Isi Iklan)
Dua masalah utama yang bisa kita dipahami dari pemikiran
tersebut. Pertama, meneliti informasi
yang obyektif adalah perbuatan sia sia. Kebanyakan manusia berbeda pengertian
satu dengan yang lainnya, mungkin sekali penafsiran terhadap sebuah stimulus
akan berbeda jumlah dan jenisnya. Kedua,
ada batas jumlah penafsiran yang mungkin diperoleh dari setiap stimulus. Batas
tertingggi jumlahnya dalah sifat fisik, seperti halnya merasakan minuman yang
mengandung racun sebagai obat mujarab untuk memperpanjang usia bisa berakibat
memperoleh nasib sial.
Dalam praktiknya, kita dapat mengatakan bahwa di dalam kasus
yang sangat besar, setiap satu iklan akan memiliki pengertian yang berbeda dari
masing masing orang. Pendapat Achenbaum menegaskan bahwa nilai informasi
biasanya didefinisikan sebagai salah satu dari empat sifat berikut:
obyektif,persuasive,bohong, dan palsu. Rupanya keempat sifat tersebut bisa
digunakan untuk mendefinisikan informasi secara operasional, misalnya dalam hal
yang bisa diukur, mereka akan gagal membohongi atau memalsukan.
Beberapa literature menganggap bahwa keempat atribut tadi
merupakan gambaran gradasi dari informasi yang bisa dan tidak diterima. Namun
ada pertentangan pendapat yang serius di mana orang akan membuat garis pemisah
antara informasi yang bisa diterima dengan yang tidak bisa diterima.
INFORMASI PALSU
Konsep minat atau perhatian public adalah seuatu yang hanya
bisa ditafsirkan kalau kita memiliki beberapa sebutan persamaan yang bisa
diambil dan banyaknya heterogenitas konsumen. Semua aturan terkadang
membingungkan, tetapi kita dapat menggunakan dua pendekatan utama yang
terkenal.
Pertama, pendekatan dengan anggapan bahwa isi iklan terbatas pada
informasi yang obyektif. Boyektif disini mengandung arti: isi informasinya
menjelaskan tentang bentuk fisik, unsure kimia, sifat mekanik, dan atribut
teknis lainnya dari produk yang diiklankan.
Kedua, pendekatan yang menganggap bahwa semua kebutuhan manusia
dapat dijelaskan secara alami, dan itulah obyektif serta mendasar. Dua golongan
kebutuhan alamiah yang berbeda selalu berarti: keperluan yang rasional atau
irasional, dan keperluan yang fungsional atau emosional.
Meskipun tidak ada fakta yang absolute, ada kelompok
informas yang bisa diubah ke dalam fakta yang relative bagi beberapa ukuran
serta sifatnya diketahui dan diterima umum. Semuanya menyediakan sebutan
persamaan yang melebihi heterogenitas persepsi manusia. Konsep standar demikian
mungkin bisa membangun definisi informasi palsu secara operasional.
OBYEKTIVITAS FISIK,KIMIA,DAN ATRIBUT LAIN
Dengan dorongan karakteristik, seseorang bisa menemukan
solusi penyelesaian persoalannya secara ilmiah, argumennya dibuat bahwa
keistimewaan teknnik memiliki satu dan hanya satu pengertian, bahwa pengertian
tersebut memperjelas setiap orang dan sama bagi siapapun.
Menurut teori ekonomi sering dipertegas bahwa herga adalah
obyektf. Ini bertentangan dengan teori permintaan dalam ekonomi tradisional dan
juga dengan perluasan yang iusulkan oleh Lancaster. Menurut teori ekonomi, harga adalah ukuran nilai, jadi
mencerminkan prefensi subyektif dari setiap konsumen.
Tujuan pengelola melibatkan daftar keistimewaan teknis
penting sekali untuk menentukan besarnya jumlah konsumen. Namun demikian mereka
akan menemukan kenyataan berikut:
1.
Kebanyakan konsumen tidak
memikirkan dan terlibat dalam keistimewaan teknis
2.
Kebanyakan konsumen tidak
mengetahui dan juga tidak mengerti dasar-dasar keistimewaan teknis
3.
Kebanyakan konsumen tidak banyak
menggunakan informasi teknis meskipun dipasaran tersedia dalam bahasa yang
sederhana.
Memperhatikan konstruksi pesan yang dimuat dalam iklan,
terutama penggunaan kata, baik tersurat maupun tersirat, maka akhirnya kita
akan sampai pada kesimpulan bahwa telah banyak fakta ilmiah yang membuktikan ;
1.
Setiap interaksi antar manusia
memiliki efek tertentu pada masing masing mereka
2.
Kata kata merupakan suatu
pengertian dimana manusia berinteraksi
3.
Kata kata berpengaruh
Tampaknya efektifitas isi pesan iklan tidak terletak pada
obyektifitas, persuasive, dan manipulative informasinya, melainkan pada
kejujuran penyajian informasinya. Jujur dalam arti semua komponen yang terlibat
dalam konstruksi produk yang diiklankan itu diberitahukan apa adanya, baik
secara fisik maupun manfaatnya. Hanya saja dalam upaya menumbuhkan minat para
konsumen akan produk yang ditawarkan, ada baiknya para pengiklan memperhatikan
teknik-teknik komunikasi ataupun persuasi yang wajar dengan tidak mengabaikan
adanya hirarki efek pada diri masing-masing konsumen.
Serta pengiklan juga
harus menggunakan kata-kata ataupun kalimat yang secara psikologis dapat
berpengaruh kea rah perubahan sikap,sifat,pendapat dan prilaku yang sesuai
dengan keinginan dan harapannya.
No comments:
Post a Comment