Wednesday, November 20, 2013

BAB 4 (Strategi dan Teknik Periklanan)


BAB 4 (Strategi dan Teknik Periklanan)

Advertising pada hakikatnya adalah salah satu jenis komunikasi yang bertujuan untuk memperngaruhi orang lain. Mempengaruhi dalam arti brtujuan mengubah sikap,sifat,pendapat,dan prilaku seseorang sesuai dengan kehendak komunikator (pembicaranya). Dalam kegiatan komunikasi dikenal ada empat teknik komunikasi, yakni informatif,instruktif,persuasif,dan human relations.

Informatif digunakan untuk memenangkan pengaruh di kalangan khalayak, namun walau sudah menerima info, belum tentu hatinya atau pikirannya terdorong untuk membeli. Maka itu digunakan lah teknik instruktif dimana menggerakkan khalayak untuk membeli namun khalayak membelinya secara terpaksa karena biasa teknik instruktif dilengkapi dengan paksaan. Sedangkan teknik persuasive adalah kegiatan psikologis dalam usaha mempengaruhi sikap,sifat,pendapat, dan prilaku seseorang. Dapat dilakukan dengan banyak cara, tapi tidak menggunakan cara seperti terror,boikot,pemerasan,dan sebagainya melainkan dengan menggunakan cara komunikasi yang verdasar pada argumentasi dan alasan alasan psikologis.
Pada hakikatnya semua orang selalu bergerumul dalam memenuhi kebutuhan pokoknya. Hal tersebut merupakan dasar bagi seseorang untuk berpikir,berbuat,dan bertingkah laku di samping faktor keinginan(want and desire) serta dorongan jiwa(drive). Ketiga faktor tersebut merupakan jembatan bagi hidupnya manusia dalam berprilaku. Ketiga faktor tersebut dikendalikan manusia melalui motivasinya.
Tetapi teknik persuasi akan menghadapi hambatan hambatan antara lain :
1.      Noice factor, hambatan berupa suara yang mengganggu sehingga proses komunikasi tidak bisa berjalan sebagaimana semestinya.
2.      Semantic factor, hambatan berupa pemakaian kata dan istilah yang dapat menimbulkan salah paham atau salah pengertian.
3.      Interest, akan membuat seseorang selektif dalam menanggapi suatu pesan. Orang hanya akan memperhatikan rangsangan (stimuli) yang ada hubungannya dengan kepentingannya sendiri.
4.      Motif, akan mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu yang benar sesuai dengan keinginan, kebutuhan, dan kekurangannya.
5.      Prejudice, sering disebut prasangka yang merupakan hambatan yang paling berat dalam upaya persuasi. Sebab belum apa apa sudah was was dan menentang komunikator yang akan melancarkan komunikasi atau persuasi.
Proses periklanan pun akan mengalami kegagalan. J.R. Kantor, melalui artikelnya “Principles of Psychology” yang dimuat dalam Social Science in Public Relations menyatakan bahwa usaha usaha membutuhkan perhatian yang dapat dilakukan dengan dua cara: 
Pertama, memanfaatkan pengaruh stimulus(perangsang) dengan menggunakan :
1.      Obyek yang berubah-ubah dan bergerak, dalam menghayati perangsang dalam lingkungannya, orang biasanya bertindak selektif. Ia hanya memperhatikan perangsang-perangsang yang diminatinya serta yang mampu menggugah minatnya.
2.      Intensitas obyek, obyek perangsang yang memiliki intensitas dalam warna, suara, dan wangi-wangian akan lebih menarik. Warna yang kontras seperti warna kuning dengan kombinasi biru atau hitam banyak dipakai dalam papan reklame, sebab kombinasi warna demikian lebih memikat ketimbang kombinasi-kombinasi lainnya.
3.      Pengulangan, penyajian secara berulang-ulang atau diulangi berkali-kali mempunyai kekuatan serta kelemahan-kelemahannya. Penyajian berulang-ulang ini dapat mewujudkan proses conditioning pada komunikan, yaitu merasa “biasa” terhadap sesuatu untuk kemudian diharapkan ada rasa “ketagihan” dari pihak pihak terkait.
4.      Bentuk dan ukuran obyek ,penyajian sesuatu dalam bentuk yang besar selalu menarik perhatian. Poster yang lebar, gapura yang besar dan tinggi, billboard yang besar akan lebih menarik ketimbang yang ukuran kecil.
5.      Hal yang baru dan aneh.
6.      Hubungan sekoyong-koyong dengan obyek, iklan sebuah perusahaan asuransi sering menggambarkan seorang ayah yang dengan histeris berusaha menyelamatkan anaknya yang berada dalam keadaan hamper tertabrak sebuah kendaraan yang sedang lari kencang. Iklan ini dimaksud mencoba menumbuhkan rasa ngeri di kalangan para orangtua sehingga dapat mendorong untuk mengambil polis asuransi kecelakaan.
7.      Obyek yang menarik,penting,semua orang rasanya senang akan keindahan,kecantikan,dan segala yang mengandung unsure-unsur kemerduan. Itulah sebabnya mengapa kulit muka majalah, rekame, barang/ jasa sering menggunakan unsur-unsur kecantikan,keindahan,dan kemerduan.

Kedua, memanfaatkan kondisi khalayak sasaran yang umumnya berupa:
1.      Familiar dengan obyek, khalayak cenderung menyukai obyek-obyek yang sudah lama dikenal atau bias dilihat. Kadang orang lbih suka (ingat) menyebut nama nama yang lama.
2.      Kepentingan, kepentingan khalayak sudah tentu menjadi perhatian mereka sendiri. Karenanya dengan mengenal baik kepentingan mereka akan memperoleh bahan berharga untuk penyajian iklan yang bisa menumbuhkan perhatian.
3.      Ada hubungan langsung, khalayak cenderung menaruh perhatian kepada obyek-obyek yang berhungan langsung dengan kebutuhannya.
4.      Kondisi rohaniah dan jasmaniah khalayak, kelelahan, kemurungan, penderitaan, sifat, tabiat, kegairahan, dan sebagainya yang tengah dialami khalayak adalah faktor faktor yang mempengaruhi reaksi terhadap isi iklan.
5.      Feeling, perasaan atau emosi adalah hal yang tidak boleh dilupakan dalam hal usaha menumbuhkan perhatian.
6.      Kegiatan kelompok, kegiatan komunikasi di wilayah yang penduduknya taat beragama islam pada saat menjelang Maghrib tidak akan mendapat perhatian sama sekali, sebab tidak cocok dengan kebiasaan sosial khalayaknya. 

BAB 5 (Penilaian Program Periklanan)


BAB 5 (Penilaian Program Periklanan)

Proses periklanan tidak berhenti sampai pada pelaksanaan programnya saja. Iklan yang telah dikampanyekan harus diuji kembali keberhasilannya melalui Pasca Test atau Posttest.

PASCA TEST IKLAN
Melalui pasca test ada kemungkinan sebuah iklan yang telah dipamerkan dikalangan khalayak sasarannya bisa ditentukan apakah perlu dirubah atau tidak. Dua pendekatan umum dalam rangka pasca test dimaksud dapat dilakukan oleh para pengusaha terkait, yaitu Starch tes tdan Gallup test.
Starch test dilakukan untuk tujuan menaksir apakah iklan itu telah dikenal oleh khalayak atau belum. Test tersebut dapat dilakukan dengan cara memperlihatkan majalah atau medium lainnya yang dipakai mengkampanyekan iklannya kepada orang orang dan menanyakannya apakah mereka membaca keterangan keterangan yang ada dalam iklan itu.

Gallup Test dimaksud menguji ingatan yang mencakup ingatan-ingatan lain yang bisa membantu. Dalam hal ini penguji menaksir ingatan orang terhadap iklannya dengan bertanya, apakah mereka membaca Koran atau majalah atau media lain misalnya. Bedanya dengan  Starch test, test ini tidak memperhatikan majalah atau media dan naskah iklannya, melainkan mereka harus mengingat ppaling sedikit satu naskah atau informasi yang ada dalam majalah atau media iklan itu.

TOLAK UKUR
Adapun yang menjadi acuan untuk mengukur apakah iklan yang telah diselenggarakan itu berhasil atau tidak, dapat dipantau dari dua segi yakni segi efek dan segi legalitas. Dari segi efek penyelenggaraan program periklanan harus menghasilkan kenaikan total profit dan penurunan harga jual. Sedangkan dari segi legalitas, semua langkah program periklanan tersebut tidak bertentangan dengan kode etik periklanan yang berlaku

BAB 6 (Sifat dan Peranan Periklanan Dalam Sistem Sosio ekonomi)


BAB 6 (Sifat dan Peranan Periklanan Dalam Sistem Sosio ekonomi)

Setiap kelompok sosial mengandalkan system komunikasi massa sebagai perluasan kehidupannya dan sebagai ketergantungan pada teknologi tertentu. Kebenaran yang tidak bisa disangkal lagi untuk menyatakan bahwa kesejahteraan setiap kelompok selalu dipengaruhi oleh organisasi system komunikasi massanya.
Apakah periklanan itu merugikan bisnis? Apakah periklanan itu meracuni kepercayaan? Apakah periklanan itu menyediakan informasi yang akurat? Untuk menjawab pertanyaan tersebut sudah tentu harus melibatkan peranan sosial ekonomi dari kegiatan periklanan, dan merupakan keseluruhan kegiatan yang mengacu pada hubungan ongkos dan kegiatan. Akhirnya ketentuan hokum dan administrative yang terlibat di dalamnya.

PREFERENSI MASYARAKAT
Prefrensi suatu kelompok masyarakat terhadap budaya akan mempengaruhi isi pesan iklan. Jadi, alat kontrasepsi tertentu bisa diiklankan di beberapa kelompok masyarakat tertentu, namun tidak mungkin bisa di kelompok masyarakat lain.
Pada prinsipnya masyarakat demokratis memiliki system yang harus membuat tugas menjadi relative sederhana dimana profesi sosialnya dinyatakan oleh para pembuat undang undang berdasarkan hokum, dalam arti diterjemahkan serta dilaksanakan oleh para pejabat yang berwenang menjalankan aturannya dan pengadilan.

SIFAT EKONOMIS INSTITUSI PERIKLANAN
Dalam hal ini kita harus difokuskan pada penelitian untuk menilai dan membuktikan kegiatan periklanan secara teknis. Kita harus melihat hal hal yang spesifik dan menjelaskan perubahan informasi ekonomisnya melalui system komunikasi massa. Secara singkat, pembahasan harus diawali dengan stereotype iklan yang kadang kadang mengganggu munculnya data yang dipertimbangkan secara rasional. Iklan pun mungkin iku campur pada kemampuan menghadapi munculnya suatu data. Umumnya orang menjadi percaya bahwa kegiatan periklanan menyebabkan perubahan ekonomi, namun semua data yang diperoleh mmberi kesan bahwa kegiatan periklanan cenderung mengikuti perkembangan ekonomi dalam arti menyesuaikan diri dengan perubahan ekonomi. 

BAB 7 (Pengaruh Periklanan Terhadap Konsumen)


BAB 7 (Pengaruh Periklanan Terhadap Konsumen)

Dalam penelitian terhadap peranan institusi periklanan dalam suatu system sosioekonomi, lebih jauh kita akan memperoleh penegasan tentang peran periklanan secara ekonomis. Dengan demikian kita harus beralih pada masalah kemasyarakatan yang dalam hal ini sangat penting, yaitu pengaruh periklanan terhadap konsumen. Perhatian kita pun harus dipusatkan pada pertanyaan tentang hubungan periklanan dengan manipulasi.
Manipulsi bisa ditujukan pada berbagai proses psikologi yang beroperasi terhadap rangsangan dari luar. Perbedaan antara manipulasi dengan persuasi pada dasarnya bersifat subyektif. Jjika si Polan meyakinkan kawannya bahwa kawannya itu bisa melakukan apa yang diminatinya artinya dia membujuk (persuasive) terhadap kawannya. Namun apabila si Polan itu meyakinkan kawannya bahwa kawannya bisa melakukan apa yang bertentangan dengan minatnya (manipulasi) terhadap kawannya.

PENYELEWENGAN DALAM IKLAN
Dalam bahasa non teknis ada beberapa proses psikologis dasar yang biasa memperhatikan iklan yang manipulative. Dalam hal ini ditekankan bahwa manusia akan menyaring setiap informasi yang mereka terima, baik dari sumbernya maupun dari medium. Cara demikian merupakan cara klasik untuk memotivsasi persepsi.
Bicara soal motivasi persepsi, perlu pula kita perhatikan adanya motivasi lupa dan ingat. Beberapa penelitian mengkonfirmasikan bahwa manusia selalu mengingat apa yang sering mereka pergunakan, mereka pandang sangat perlu, dan apa yang selalu mereka rasakan. Sebaliknya manusia cendrung melupakan informasi yang jarang digunakan, tidak penting, atau tidak pernah merasakannya.
Dalam hal ini setiap insane akan menafsirkan informasi dari suatu stimulus tergantung pada jenis dan derajat kepentingn serta keterlibatannya. Singkat kata, kepentingan dan keterlibatan akan menentukan apakah informasi itu akan diingatnya, dan berapa lama dia mampu mengingatnya. Akhirnya, pesan akan diingatnya, sehingga berprilaku menurut:
1.      Jumlah dan jenis peristiwa yang mengintervensi penerimaan serta saat pemilihannya
2.      Jumlah dan jenis peristiwa yang ada di sekitarnya pada saat dia harus memilih
Setiap pesan, bagaimanapun jelas sifat fisiknya, mungkin selalu dimanipulasikan oleh proses penafsiran dan akibat penafsrannya. Contoh arti dari barang, situasi, dan waktu akan denderung berbeda dari orang ke orang. Akibatnya tidak ada pesan berisi informasi yang obyektif,jelas, dan tidak bermakna ganda.
Dillon menjelaskan bahwa benar informasi persuasif itu  sama dengan informasi bohong. Dillon mengatakan bahwa ada perbedaan antara informasi yang persuasive dengan informasi yang bersifat menipu. Untuk lebih jelas lagi kita harus kembali pada perbedaan antara informasi yang obyektif dan tidak obyektif(persuasif). Anchenbaum menjelaskan bahwwa sia sia mencari perbedaan antara informasi yang obyektif dengan yang tidak obyektif.
Ada tujuh metode yang lebih umum tentang manipulasi:
1.      Dengan menggunakan daya tarik emosional, tidak dengan bicara rasional kepada konsumen.
2.      Membuat keaddan tidak sempurna, dengan tidak member konsumen semua informasi yang mereka perlukan untuk pembuatan suatu keputusan .
3.      Membuat keadaan tidak relevan, dengan tidak memberitahu konsumen informasi penting
4.      Membuat keadaan yang tidak bisa dibandingkan, dengantidak member orang info tentang produk yang bersaing
5.      Berbuat subyektif, dengan tidak memberitahu konsumen tentang criteria obyektif untuk mengukur kualitas produk
6.      Muslihat atau penggambaran yang keliru, tidak membicarakan kebenaran,menggunakan kepalsuan.
PENGERTIAN MANIPULASI
Dalam hal non fisik, kata “manipulasi” adalah sesuatu yang menarik perhatian orang. Karena sudah bisa dilihatnya, maka iklan pun dapat diartikan sebagai kata kata yang bersifat mempengaruhi,memberitahu,membujuk dan meyakinkan dengan tidak merendahkan atau menjelek-jelekkan, serta tidak menggunakan kekerasan fisik. Semua sifat tersebut memiliki hirarki pengertian. Jika kita rangkaikan tempat kata kata tadi, agaknya kita akan memperoleh urutan istilah dari sifatnya buru sampai bagus, seperti : MEMANIPULASI-MEMPENGARUHI-MEMBUJUK-MEYAKINKAN-MEMBERITAHU.
Sifat manipulasi pada periklanan tidak hanya dibuat di dalam istilah penipuan. Justru itu dilakukan untuk landasan membujuk, mempengaruhi, atau meyakinkan orang. Tidak banyak orang percaya bahwa hal tersebut merupakan salah satu bentuk penipuan atau pembujukan pasar, dan karena itu mereka sebut manipulasi. Kita tidak bisa menerima definisi tersebut sebagai persaingan yang wajar ata u yang diterima masyarakat.

PERANAN INFORMASI
Dalam hal ini, sebuah informasi yang jelas penting adanya, sebab memberitahu orang bukan manipulasi. Namun apabila kita memberitahu para konsumen secara berlebihan, maka kita dianggap telah melakukan manipulasi, atau paling tidak, diduga mendekati manipulasi, yang didefinisikan sebagai mempengaruhi, membujuk, dan meyakinkan mereka untuk berbuat sesuatu.
Bagi fakta yang sebenarnya, mengatakan bahwa memberitahukan apa yang penting adalah menginginkan isu. Demikian juga fakta mengatakan bahwa mengkomunikaskan informasi yang mencolok adalah meminta isu, dan mengatakan, kamu harus memberikan deskripsi perbandingan adalah meminta isu lebih lanjut.

SIFAT PERSUASI
Ada dua masalah besar yang terlibat dalam upaya persuasi sejauh pengiklan nasional diperhatikan :
1.      Haruskah persuasi memperoleh izin sebagai unsure dalam iklan barang atau merk dagangnya?
2.      Jika diizinkan, adakah batas-batas tertentu bagi bentuk persuasi itu?
Izin persuasi adalah sangat menggelikan jika ada pemikiran yang menjelaskan bahwa persuasi dalam periklanan dapat dihilangkan. Ada beberapa alas an mengapa persuasi harus terus menerus mengambil bagian dalam proses komunikasi pasar.
Pertama, semua informasi yang bersifat deskriptif tidak bisa dipisahkan dari persuasi. Orang tidak bisa hanya menyampaikan informasi deskriptif tentang barang yang relevan tanpa bersifat persuasive, namun dia harus menentukan pembicaraannya terbatas pada apa yang penting atau menonjol untuk diutarakannya.
Kedua, karena persuasi merupakan bagian dari proses yang bersifat demokratis. Persuasive merupakan cara membuat keputusan yang logis di dalam masyarakat yang merdeka.
Bentuk persuasi. Dalam hal ini ada baiknya kita mengetahui bagaimana persuasi dilibatkan dlam periklanan. Persuasi dalam periklanan memiliki lima tujuan utama yang essensial :
1.      Meyakinkan orang agar menggunakan barang yang sebelumnya tidak pernah dia gunakan
2.      Meyakinkan konsumen agar memakai produknya sesering, sesegera, atau sebanyak mungkin
3.      Meyakinkan konsumen agar terus menerus memakai produk bermerk istimewa
4.      Meyakinkan konsumen agar pembeli produk yang ukuran dan bentuknya bermerk istimewa, dan
5.      Meyakinkan calon pembeli agar bertindak ke arah pemakaian produk merk tertentu, seperti pergi ke toko untuk melihat barang barang merk tertentu di etalase.
Kegiatan periklanan tidak hanya didasarkan pada informasi saja, melainkan juga pada penjelasan dari pandangan atau sikap mengenai informasi itu. Informasi hanya berarti apabila ditempatkan dalam suatu konteks tertentu. Tidak bisa dipisahkan dari persuasi. 

BAB 8 (Isi Iklan)


BAB 8 (Isi Iklan)

Dua masalah utama yang bisa kita dipahami dari pemikiran tersebut. Pertama, meneliti informasi yang obyektif adalah perbuatan sia sia. Kebanyakan manusia berbeda pengertian satu dengan yang lainnya, mungkin sekali penafsiran terhadap sebuah stimulus akan berbeda jumlah dan jenisnya. Kedua, ada batas jumlah penafsiran yang mungkin diperoleh dari setiap stimulus. Batas tertingggi jumlahnya dalah sifat fisik, seperti halnya merasakan minuman yang mengandung racun sebagai obat mujarab untuk memperpanjang usia bisa berakibat memperoleh nasib sial.
Dalam praktiknya, kita dapat mengatakan bahwa di dalam kasus yang sangat besar, setiap satu iklan akan memiliki pengertian yang berbeda dari masing masing orang. Pendapat Achenbaum menegaskan bahwa nilai informasi biasanya didefinisikan sebagai salah satu dari empat sifat berikut: obyektif,persuasive,bohong, dan palsu. Rupanya keempat sifat tersebut bisa digunakan untuk mendefinisikan informasi secara operasional, misalnya dalam hal yang bisa diukur, mereka akan gagal membohongi atau memalsukan.
Beberapa literature menganggap bahwa keempat atribut tadi merupakan gambaran gradasi dari informasi yang bisa dan tidak diterima. Namun ada pertentangan pendapat yang serius di mana orang akan membuat garis pemisah antara informasi yang bisa diterima dengan yang tidak bisa diterima.

INFORMASI PALSU
Konsep minat atau perhatian public adalah seuatu yang hanya bisa ditafsirkan kalau kita memiliki beberapa sebutan persamaan yang bisa diambil dan banyaknya heterogenitas konsumen. Semua aturan terkadang membingungkan, tetapi kita dapat menggunakan dua pendekatan utama yang terkenal.
Pertama, pendekatan dengan anggapan bahwa isi iklan terbatas pada informasi yang obyektif. Boyektif disini mengandung arti: isi informasinya menjelaskan tentang bentuk fisik, unsure kimia, sifat mekanik, dan atribut teknis lainnya dari produk yang diiklankan.
Kedua, pendekatan yang menganggap bahwa semua kebutuhan manusia dapat dijelaskan secara alami, dan itulah obyektif serta mendasar. Dua golongan kebutuhan alamiah yang berbeda selalu berarti: keperluan yang rasional atau irasional, dan keperluan yang fungsional atau emosional.
Meskipun tidak ada fakta yang absolute, ada kelompok informas yang bisa diubah ke dalam fakta yang relative bagi beberapa ukuran serta sifatnya diketahui dan diterima umum. Semuanya menyediakan sebutan persamaan yang melebihi heterogenitas persepsi manusia. Konsep standar demikian mungkin bisa membangun definisi informasi palsu secara operasional.

OBYEKTIVITAS FISIK,KIMIA,DAN ATRIBUT LAIN
Dengan dorongan karakteristik, seseorang bisa menemukan solusi penyelesaian persoalannya secara ilmiah, argumennya dibuat bahwa keistimewaan teknnik memiliki satu dan hanya satu pengertian, bahwa pengertian tersebut memperjelas setiap orang dan sama bagi siapapun.
Menurut teori ekonomi sering dipertegas bahwa herga adalah obyektf. Ini bertentangan dengan teori permintaan dalam ekonomi tradisional dan juga dengan perluasan yang iusulkan oleh Lancaster. Menurut teori ekonomi, harga adalah ukuran nilai, jadi mencerminkan prefensi subyektif dari setiap konsumen.
Tujuan pengelola melibatkan daftar keistimewaan teknis penting sekali untuk menentukan besarnya jumlah konsumen. Namun demikian mereka akan menemukan kenyataan berikut:
1.      Kebanyakan konsumen tidak memikirkan dan terlibat dalam keistimewaan teknis
2.      Kebanyakan konsumen tidak mengetahui dan juga tidak mengerti dasar-dasar keistimewaan teknis
3.      Kebanyakan konsumen tidak banyak menggunakan informasi teknis meskipun dipasaran tersedia dalam bahasa yang sederhana.
Memperhatikan konstruksi pesan yang dimuat dalam iklan, terutama penggunaan kata, baik tersurat maupun tersirat, maka akhirnya kita akan sampai pada kesimpulan bahwa telah banyak fakta ilmiah yang membuktikan ;
1.      Setiap interaksi antar manusia memiliki efek tertentu pada masing masing mereka
2.      Kata kata merupakan suatu pengertian dimana manusia berinteraksi
3.      Kata kata berpengaruh

Tampaknya efektifitas isi pesan iklan tidak terletak pada obyektifitas, persuasive, dan manipulative informasinya, melainkan pada kejujuran penyajian informasinya. Jujur dalam arti semua komponen yang terlibat dalam konstruksi produk yang diiklankan itu diberitahukan apa adanya, baik secara fisik maupun manfaatnya. Hanya saja dalam upaya menumbuhkan minat para konsumen akan produk yang ditawarkan, ada baiknya para pengiklan memperhatikan teknik-teknik komunikasi ataupun persuasi yang wajar dengan tidak mengabaikan adanya hirarki efek pada diri masing-masing konsumen.
 Serta pengiklan juga harus menggunakan kata-kata ataupun kalimat yang secara psikologis dapat berpengaruh kea rah perubahan sikap,sifat,pendapat dan prilaku yang sesuai dengan keinginan dan harapannya. 

Tuesday, November 19, 2013

BAB 1 Mengenal Struktur Organisasi Perusahaan Periklanan


Judul : Bagaimana Biro Iklan Memproduksi Iklan
Pengarang : Agus S. Madjadikara
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama


BAB 1 Mengenal Struktur Organisasi Perusahaan Periklanan

Skema sederhana organisasi sebuah biro iklan yakni untuk memberi gambaran mengenai bagaimana struktur organisasi perusahaan tersebut.
Di Indonesia, biro iklan yang tergolong paling besar hanya mempekerjakan 300  orang, lain dengan di Amerika Serikat yang mempekerjakan lebih dari 3000 orang. Dengan adanya perbedaan jumlah orang yang bekerja dalam suatu perusahaan, tentu akan mempengaruhi struktur organisasi di dalamnya. 

1.1 Departemen Kreatif (Creative Department)

Tempat copywriter bekerja adalah Departemen Kreatif. Departemen ini dipimpin oleh Creative Director atau Pengarah Kreatif. (versi Matari Advertising). Matari Advertising adalah biro iklan yang konsisten untuk mengkonversikan istilah-istilah periklanan Inggris ke dalam Bahasa Indonesia. 
Di Deprtemen Kreatif inilah pesan-pesan periklanan untuk berbagai media diciptakan dan dikembangkan untuk disampaikan kepada khalayak melalui media yang dipilih.  
Tenaga department ini terdiri dari Copywriter,dan  Art Director. Copywriter dan Art Director bekerja di bawah pimpinan seorang reative Director. ke dalam Departemen Kreatif sering dimasukkan juga Subdepartemen Traffic dan Art Studio, ada kalanya Subdepartemen Produksi. 

1.2 Departemen Layanan Klien (Client Service Department)

Departemen servis atau Department Service / Account Service Department . Ada juga biro iklan yang menggunakan istilah Account Manager yang fungsinya mestinya lebih bersifat administratif daripada operasional. Account Director menduduki posisi yang unik dimana dia adalah representatif dari biro iklan tempatnya bekerja dan menerima gaji. Dia yang paling banyak tahu urusan klien, dan dia yang selalu memikirkan urusan kepentingan klien.. Karena posisi itulah ia harus benar benar mengerti kepentingan klien namun tidak boleh melupakan biro iklannya sendiri. 

1.3 Departemen Media (Media Department

Pesan komunikasi pemasaran atau periklanan tentunya memerlukan media (cetak/elektronik) untuk bisa sampai kepada khalayak sasaran. Para petugas di Departemen Media harus pandai pandai bernegosiasi bisnis dengan perusahaan media (koran, majalah, radio, televisi, dan sebagainya). karena dari sinilah sumber pemasukkan keuangan yang utama bagi biro iklan. Mereka bersama sama Account Director dan Creative Director merancang dan menentukan media strategy untuk suatu kampanye klien.Straregi ini tentunya harus terlebih dahulu disetujui sebelum dilaksanakan. 

1.4 Departemen Reserch dan Monitoring 

Riset untuk bidang periklanan isa dilakukan sebelum maupun sesudah kampanye periklanan di lancarkan. Klien klien dari perusahaan multinasional yang selalu berpedoman pada efisiensi, biasanya tidak mau ambil resiko untuk membuat kampanye perriklanan dengan cara spekulatif atau untung untungan. kampanye periklanan umumnya menyangkut biaya besar. Itulah sebabnya mereka biasanya melakukan survei terlebih dahulu sebelum sebuah konsep komunikasi pemasaran mereka dilancarkan. melalui survei yang disebut focus group misalnya, dapat mereka ketahui apakah sebuah rancangan iklan yang diusulkan biro iklannya "mengena" dan di sukai sasaran atau tidak. 

1.5 Subdepartemen/ Bagian Traffic (Traffic Department)

Betapa kacaunya bila semua pesanan pekerjaan dari berbagai klien yang dierima oleh bagian Client Service langsung dibawa sendiri sendiri oleh Account Executive (AE) ke Creatie Department. kadanh ada AE yang ingin agar pekerjaannya dikerjakan langsung oleh copywriter A dan Art Director B. Untuk menghindari kekacauan ini dan untuk mmelihara tertib dalam hal catatan keuangan. Selain itu Traffic bersama Creative Director harus mampu berbagi beban pekerjaan secara merata kepada setiap petugas di Creative Department, sedapat mungkin sesuai kemampuan dan bakat orangnya.

1.6 Subdepartmen/ Bagian Produksi (Production Department)

Bagian Produksi kadang berada dibawah Departemen Kreatif, tapi ada kalanya juga berada di bawah Departemen Keuangan ( Finance Department). Tugasnya adalah sebagai penyalur dari Departemen Kreatif. Tidak semua pekerjaan kreatif dikerjakan sendiri oleh Departemen Kreatif , terkadang memerlukan bantuan dari pihak ketiga sebagai pelengkap seperti perusahaan percetakan untuk barang-barang yang akan di cetak di brosur, pamfet, Company Profile, dan lain sebagainya. 

BAB 2 (Hubungan Biro Iklan dengan Kliennya)


BAB 2 (Hubungan Biro Iklan dengan Kliennya)

Sering di sebut bahwa klien adalah “nyawa” sebuah biro iklan. Ini berarti hidup matinya sebuah perusahaan periklanan tergantung pada 2 faktor yang berkaitan dengan klien. Pertama, ada tidaknya kepercayaan klien pada kemampuan dan “integritas” biro iklan tersebut sebagai mitra kerja dalam upaya pemasaran dan periklanan produk-produknya. Kedua, tersedia tidaknya dana promosi yang cukup di pihak klien untuk melaksanakan kampanye periklanan tersebut. Perusahaan periklanan yang memiliki klien dengan dana promosi yang cukup besar dapat dikatakan sangat beruntung, karena dana itulah nantinya yang akan dikelolah oleh perusahaan periklanan tersebut. Sehingga dengan sendirinya akan memberikan presentase keuntungan (revenue) yang memadai bagi biro iklan tersebut. Perusahaan periklanan sebenarnya cukup memiliki satu atau dua klien saja yang dana promosinya benar-benar dapat menjamin keberlangsungan perusahaan periklanan tersebut. Namun bahayanya, bila terjadi sebuah konflik sehingga klien tersebut pergi dan memutuskan hubungan kerja dengan perusahaan, maka akan mengancam perusahaan periklanan tersebut kea rah menuju kebangkrutan. Kecuali bila biro iklan ersebut dapat dengan cepat mendapatkan klien baru dengan dana yang cukup besar. 
window.setTimeout(function() { document.body.className = document.body.className.replace('loading', ''); }, 10);